Terlahir dengan nama Muhammad Feriandi Mirza di Yogyakarta, 30 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 24 Februari 1978. Aku yang biasa dipanggil dengan nama Andi, Feri, atau Mirza adalah putra bungsu dari pasangan Bapak Muhammad Ghozie Daim dan Ibu Nurani Masduki. Aku menghabiskan masa kanak-kanak sampai masa remajaku di kota kelahiranku.
TK ABA Ketanggungan, Yogyakarta adalah tempat pertama kali aku menuntut ilmu. Selepas dari TK, orang tuaku memasukkan aku ke SD Muhammadiyah Wirobrajan III, Yogyakarta. Memang kedua orang tuaku terutama bapakku aktif di Muhammadiyah dan sangat Muhammadiyah-minded sehingga aku dimasukkan ke TK dan SD yang secara struktur berada dalam induk Muhammadiyah. Ya, mungkin tujuannya selain aku mendapatkan dasar pemahaman Islam yang kuat aku juga diharapkan mendapatkan paham kemuhammadiyahan.
Lulus dari SD pada tahun 1990, NEM (Nilai Ebtanas Murni) ku ternyata mencukupi untuk masuk ke SMP Negeri 5, Yogyakarta. Salah satu SMP terfavorit di kota kelahiranku. Aku sempat keteteran juga pada saat itu mengikuti pelajaran di SMP tersebut yang membuat prestasiku pada saat kelas 1 dan 2 tidak bisa dikatakan bagus. Tetapi saat aku kelas 3 aku seperti mendapatkan motivasi dari dalam diri sendiri bahwa aku bisa mendapatkan prestasi yang lebih bagus dari yang sebelumnya pernah aku raih. Dan, Alhamdulillah ketika lulus SMP pada tahun 1993, lagi-lagi NEM ku bisa dikatakan sangat lumayan dan mencukupi untuk masuk ke SMA Negeri 1 Teladan, Yogyakarta. Salah satu SMA terfavorit juga. Semasa SMA aku aktif di Pramuka dan salah satu yang tidak bisa aku lupakan adalah saat harus mengikuti Pengembaraan Desember Tradisional (PDT). Entah kegiatan ini masih ada sampai sekarang atau tidak. Tetapi yang jelas kegiatan ini sangat membutuhkan kesiapan fisik dan mental karena kita harus berjalan kaki sejauh ratusan kilometer selama sekitar 4 hari ditambah dengan berbagai kegiatan dan tugas lainnya yang harus kita kerjakan. Kulit kaki melepuh karena panas dan berjalan jauh adalah hal yang biasa, apalagi kalau kemudian dengan kondisi kaki yang seperti itu harus berjalan di air, rasa perihnya semakin melengkapi kenikmatan.
Selepas SMA dimana aku lulus pada tahun 1996, aku mempunyai keinginan untuk melanjutkan kuliah di luar kota Yogyakarta. Aku tidak peduli apakah itu aku akan masuk ke PTN atau PTS, yang penting pada saat itu yang ada dalam pikiranku aku harus keluar dari kota kelahiranku. Saat mengikuti UMPTN memang saya memasukkan nama ITB sebagai pilihan perguruan tinggi yang ingin aku masuki. Memang akhirnya saya tidak lulus UMPTN dan gagal masuk ITB.
Karena gagal di UMPTN, akhirnya aku masuk ke STT Telkom di Jurusan Teknik Elektro/Telekomunikasi. Saat aku masuk ke kampus STT Telkom tahun 1996 kondisi kampus masih belum sebagus sekarang, walaupun saat itu kampus tersebut sudah termasuk ”mewah” alias mepet sawah. Sekitar dua bulan pertama di STT Telkom aku dan mahasiswa baru lainnya wajib tinggal di asrama. Waktu itu aku menempati kamar C-306. Dua bulan yang lumayan berat, aku harus melalui OSPEK dengan tugas-tugas yang terkadang tak masuk akal dan siksaan fisik serta mental, aku harus menjalani PDD (Pendidikan Disiplin Dasar) yang diinstrukturi oleh bapak-bapak dari Angkatan Darat, aku harus mengikuti inisiasi (semacam OSPEK nya jurusan) yang akhirnya tidak aku ikuti sampai selesai, serta seabrek kegiatan dan aturan yang dibuat oleh senior-senior di asrama yang sangat menyita tenaga dan pikiran.
Di Jurusan Teknik Elektro aku mengambil peminatan Pengolahan Sinyal Informasi (PSI) dengan satu tujuan pada saat itu memperbaiki IPK, karena dosen-dosen yang mengajarkan mata-mata kuliah pemiatan itu sangat royal memberikan nilai B atau malahan A. Apalagi dengan jumlah mahasiswa yang mengambil peminatan itu yang tidak lebih dari 10 – 15 orang tiap satu angkatan, selain itu model kuliahnya yang bisa dibilang cozy banget karena jumlah mahasiswanya yang tidak terlalu banyak jadi ruang kuliah tidak sumpek, ujian yang selalu dengan sistem buka buku, atau malah tidak ada ujian dan diganti dengan membuat makalah yang kemudian dipresentasikan, membuat nilai kuliahku di masa peminatan itu straight A. Tetapi kemudian dari yang tadinya motivasiku hanya untuk memperbaiki IPK tetapi akhirnya aku justru mulai asyik dengan dunia pengolahan sinyal. Mengambil peminatan ini juga mengantarkan aku jadi seorang asisten Laboratorium Pengolahan Sinyal Digital (PSD). Lumayan, bisa untuk menambah uang saku selain bisa memanfaatkan fasilitas laboratorium untuk keperluan kuliah dan tentu aja keperluan pribadi.
Akhirnya tiba waktunya aku harus mengerjakan Tugas Akhir (TA). Karena aku mengambil peminatan PSI maka aku juga mengambil judul TA yang sesuai dengan peminatan yang aku ambil, walaupun bukan merupakan kewajiban bahwa TA harus sesuai dengan peminatan yang diambil. Pada saat itu aku mengambil judul ”Implementasi HMM dan Transformasi Wavelet pada Pengenalan Sinyal Bicara Fonem Bahasa Indonesia”. Pertama-tama memang aku cukup kesulitan juga mengerjakannya, tapi akhirnya bisa aku selesaikan juga berkat bantuan dari dua orang pembimbing, Bapak Ir. Hadi Suwastio, Ph.D dan Mas Suyatno, ST. Aku ucapkan terima kasih buat mereka berdua yang mau atau malahan sering meluangkan waktu di luar waktu kuliah untuk bimbingan. Setelah melalui sidang TA, akhirnya aku berhasil mempertahankan TA ku dan mendapatkan nilai A, walaupun ada sedikit revisi yang harus aku lakukan. Aku lulus dari STT Telkom dan diwisuda pada tanggal 5 September 2001.
Aku memang termasuk orang yang sangat senang mempelajari hal-hal yang baru. Dan prinsipku yang satu ini kemudian membawaku masuk ke dunia kerja yang sama sekali berbeda bidangnya dengan apa yang aku pelajari pada saat kuliah dulu. Dua tahun pengalaman kerja pertamaku adalah sebagai seorang pimpinan cabang dari sebuah lembaga pendidikan non-formal yang kini justru aku menjadi salah satu investor di lembaga pendidikan ini. Bekerja di perusahaan ini memberiku banyak sekali pelajaran dengan kegagalan-kegagalan yang masih seringkali aku dapatkan pada saat itu. Dan 2 tahun pengalaman kerja kedua selepas aku keluar dari perusahaan pertamaku pun juga masih bisa dibilang tidak terlalu sesuai juga dengan apa yang dulu aku pelajari. Aku bekerja di salah satu anak perusahaan Telkom dan Elnusa. Banyak sekali yang aku dapatkan dan aku pelajari di tempat ini yang tetap harus beberapa kali aku dapatkan setelah aku melalui kegagalan.
Tanggal 15 Maret 2006 aku tidak lagi bekerja di perusahaan itu dan kemudian aku mencoba untuk berwiraswasta. Alhamdulillah hasilnya cukup lumayan, bahkan lebih besar dari gaji yang kudapatkan dari dua perusahaan tempat aku bekerja sebelumnya.
Pada Hari Jum’at tanggal 1 Maret 2002 aku menikah dengan seorang wanita yang bernama Dian Laila Sari yang kini sudah memberiku dua orang anak, Shaquille Rakeen Aqshal Attariq (22 Mei 2003), dan Javier Ottmar Attila Maliq (19 Februari 2007).
Yang terakhir nggak disebutin tuh di?..ttg cpns itu
he he he he……..ntar aja deh, gw bikin sequel nya yang kedua
halooooo
@ Lida : Haloo juga……